Bahasa Isyarat

evolusi memetika komunikasi tanpa suara

Bahasa Isyarat
I

Pernahkah kita terjebak di sebuah konser yang musiknya begitu memekakkan telinga, sampai-sampai berteriak pun percuma? Atau mungkin saat kita menyelam di bawah laut, di mana suara tak lagi bisa diandalkan. Apa yang kita lakukan saat itu? Secara instingtif, tangan kita mulai bergerak. Kita menunjuk, melambaikan tangan, membuat gestur tertentu, ditambah dengan ekspresi wajah yang melebih-lebih. Dan ajaibnya, teman kita mengerti. Selama ini, kita mungkin sering terjebak pada satu ilusi besar: bahwa bahasa itu mutlak butuh suara. Padahal, jauh sebelum pita suara nenek moyang kita berevolusi untuk merangkai kata-kata puitis, tubuh kitalah yang lebih dulu bercerita. Hari ini, saya ingin mengajak teman-teman menyelami sebuah mahakarya evolusi manusia yang sering kita pandang sebelah mata. Kita akan membicarakan bahasa isyarat. Bukan sekadar sebagai alat bantu, melainkan sebagai bukti kecerdasan memetika komunikasi manusia yang paling murni.

II

Mari kita mundur sejenak ke masa lalu. Jutaan tahun yang lalu, di padang sabana purba, bertahan hidup adalah soal seberapa baik kita bekerja sama. Menariknya, para ahli biologi evolusioner sepakat bahwa sebelum Homo sapiens cerewet seperti sekarang, gestur tubuh adalah primadona komunikasi. Bayangkan saat nenek moyang kita harus menyergap mangsa besar di semak-semak. Berteriak tentu bukan ide yang brilian. Gerakan tangan yang sunyi namun presisi adalah kunci hidup dan mati. Dari sinilah sebuah konsep yang disebut memetics atau memetika mulai bekerja. Sebuah gerakan tangan yang tadinya cuma refleks acak, perlahan disalin, ditiru, dan diberi makna kolektif oleh komunitas. Gerakan menunjuk bertransformasi menjadi konsep arah. Genggaman tangan menjadi simbol bahaya. Secara psikologis, ini membuktikan satu hal yang sangat indah: otak manusia punya rasa lapar yang luar biasa hebat untuk terkoneksi dengan manusia lain. Kalau saluran suara tertutup, tubuh kita pasti akan mencari jalan keluarnya sendiri.

III

Tapi di sinilah muncul sebuah ironi sejarah yang lumayan menyayat hati. Kalau bahasa tanpa suara ini begitu natural bagi otak kita, kenapa selama berabad-abad ia justru dipinggirkan? Pada tahun 1880, ada sebuah pertemuan kelam bernama Konferensi Milan. Di sana, para pendidik dari seluruh dunia membuat keputusan fatal: bahasa isyarat dilarang di sekolah-sekolah, dan anak-anak Tuli dipaksa untuk belajar membaca bibir serta bersuara. Sebuah upaya pemaksaan yang sering disebut oralism. Sejarah ini memunculkan pertanyaan besar di kepala kita. Mengapa masyarakat saat itu begitu ketakutan pada bahasa tangan? Apakah karena bahasa isyarat dianggap bukan bahasa sungguhan? Apakah ia miskin tata bahasa? Dan yang paling mengganjal, kalau kita melihat orang menggunakan bahasa isyarat, apakah otak memprosesnya hanya sebagai "gambar bergerak" yang lewat begitu saja, atau sebagai sebuah bahasa yang sama rumitnya dengan bahasa lisan?

IV

Bersiaplah, karena hard science punya jawaban yang akan memutarbalikkan persepsi kita. Ketika para neurosains memasukkan penutur bahasa isyarat ke dalam mesin fMRI, mereka melihat sesuatu yang luar biasa. Area otak bernama Broca dan Wernicke—dua area sakral yang selama ini diyakini berevolusi khusus untuk memproses ucapan dan suara—ternyata menyala terang benderang saat subjek melihat bahasa isyarat. Otak kita tidak peduli apakah informasi itu masuk lewat getaran suara di telinga atau lewat pantulan cahaya di mata. Selama ia punya pola, struktur, dan makna, otak akan mengolahnya sebagai bahasa tingkat tinggi. Fakta kerasnya: bahasa isyarat bukan bahasa lisan yang diterjemahkan ke tangan. Ia punya syntax dan grammar mandiri yang luar biasa efisien karena memanfaatkan ruang tiga dimensi.

Bukti paling epik dari evolusi memetika ini terjadi di Nikaragua pada akhir 1970-an. Saat itu, ratusan anak Tuli yang tidak pernah belajar bahasa apa pun dikumpulkan di satu sekolah baru. Karena tidak ada yang mengajari mereka bahasa isyarat standar, mereka mulai menggabungkan gestur-gestur kecil yang biasa mereka pakai di rumah. Dalam waktu kurang dari dua dekade, anak-anak ini menciptakan bahasa baru dari nol, lengkap dengan tata bahasa spesifik yang menurun secara memetik ke adik-adik kelas mereka. Peristiwa yang dikenal sebagai Nicaraguan Sign Language ini membuat para ahli linguistik sedunia merinding. Ini adalah bukti absolut bahwa bahasa itu hidup. Ia meledak secara instingtif dari dalam diri manusia, tanpa butuh satu patah kata pun untuk memicunya.

V

Pada akhirnya, perjalanan evolusi memetika tanpa suara ini mengajarkan kita sebuah pelajaran psikologis yang sangat mendalam tentang empati dan kemanusiaan. Ketika kita melihat teman-teman Tuli sedang "berbincang" dengan jentikan jari dan kerutan dahi mereka, kita tidak sedang melihat sebuah kekurangan. Sama sekali tidak. Kita sedang menyaksikan puncak adaptasi evolusi manusia yang menolak untuk dibungkam. Kita sedang melihat bagaimana rasa ingin tahu, kebutuhan untuk dipahami, dan hasrat untuk bercerita, mampu menembus rintangan biologis apa pun. Bahasa isyarat mengingatkan kita bahwa komunikasi sejati bukanlah tentang seberapa keras kita bisa bersuara, melainkan seberapa keras kita berusaha untuk saling terhubung. Mulai sekarang, mungkin kita bisa memandang keheningan dengan kacamata yang baru. Karena di dalam keheningan itu, jika kita mau sedikit saja memperhatikan, ada percakapan-percakapan paling cerdas, paling kaya, dan paling jujur yang pernah diciptakan oleh spesies manusia.